Kamis, 04 November 2010

Pengaruh Pribadi, Keluarga, dan Rumah tangga


A.    Pengaruh pribadi dan kelompok acuan sebagai strategi pemasaran
Pribadi merupakan suatu orang atau benda tertentu dari suatu kumpulan. Kelompok adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Seorang individu pasti berbeda dengan individu lain, kebanyakan pribadi tidak dapat hidup seorang diri. Hal ini dikarenakan manusia adalah makhluk sosial yang terus bergantung satu dengan lainnya. Bergabungnya seseorang dengan sebuah kelompok biasanya karena adanya kedekatan dan kesamaan. Dua hal ini yang memicu diciptakannya sebuah kelompok yang akan membentuk suatu norma yang digunakan dalam kelompok tersebut. Dalam hal ini, pengaruh pribadi dan kelompok dalam strategi pemasaran menjadi hal yang dipertimbangkan oleh para produsen produk. Biasanya mereka mengamati dengan seksama, hal-hal apa saja yang dapat mendorong terjualnya suatu produk di pasaran. Contohnya: seorang mahasiswi yang menggunakan kosmetik A, biasanya mendapatkan informasi dari sahabat atau kelompoknya mengenai khasiat dari kosmetik tersebut. Sehingga pengaruh kelompok begitu melekat pada strategi pemasaran sebuah produk.

B.     Model proses pengaruh pribadi, pemberi pengaruh (influential) dan implikasi strategi pemasaran dari pengaruh pribadi
Model proses pengaruh pribadi, pemberi pengaruh (influential) dan implikasi strategi pemasaran dari pengaruh pribadi merupakan bagian penting dalam menentukan strategi pemasaran yang diperhatikan oleh para produsen. Berikut ini akan dibahas mengenai model proses pengaruh pribadi yang menurut teori kerja terdapat beberapa model, yakni:
a.       Teori Menetes
Teori ini mengatakan bahwa, seringkali kelas sosial bawah mengikuti atau meniru kelas sosial atas, hal ini biasa dilakukan oleh teman sebaya. Contoh: kepemilikan handphone qwerty, seperti BB yang banyak ditirukan oleh banyak orang, trend pakaian terbaru.
b.      Arus dua langkah
Menurut Lazarsfeld, pengaruh lain dari model proses pengaruh pribadi yaitu terdapat dari media massa sebagai pengaruh lain yang mampu meneruskan informasi kepada orang lain. Media massa dulu dianggap sebagai sesuatu yang sangatlah penting karena selalu memberikan informasi penting mengenai fakta-fakta yang sedang aktual, sedangkan saat ini sudah banyak disalahgunakan. Contoh: infotainment yang memuat berita mengenai kehidupan serta skandal para artis.
c.       Interaksi banyak tahap
Perkembangan inovasi sebagian besar mematahkan keabsahan model arus dua langkah dengan memperlihatkan bahwa baik pemberi maupun pencari dipengaruhi oleh media massa. Seharusnya media massa dapat mendorong pencari untuk membuat seseorang dalam mendapatkan sesuatu hal yang baru.
      Selanjutnya yakni, pemberi pengaruh. Ada beberapa yang member pengaruh dalam melakukan strategi pemasaran, yaitu:
§  Metode penelitian, metode ini dilakukan guna mengetahui kemampuan konsumen dalam melakukan pembelian/kemampuan daya beli.
§  Karakteristik
§  Motivasi
Hal terakhir yaitu, implikasi strategi pemasarn dari pengaruh pribadi, terdapat beberapa hal, yakni:
1.      Memonitor isi pernyataan lisan
2.      Kepercayaan tunggal akan komunikasi lisan
3.      Menggunakan pemberi pengaruh sebagai target pasar
4.      Menstimulasi komunikasi lisan
5.      Menciptakan pemberi pengaruh
6.      Mengendalikan komunikasi lisan yang negatif

C.     Keluarga dan studi perilaku konsumen
Rumah tangga terkait dengan keluarga yang tinggal dalam satu atap. Keluarga memiliki struktur sendiri dalam memainkan peranannya masing-masing. Keluarga adalah lingkungan mikro yaitu lingkungan yang paling dekat dengan konsumen. Keluarga menjadi daya tarik bagi pemasar karena keluarga memiliki pengaruh yang besar kepada konsumen. Anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pembelian produk dan jasa. Misalnya, keluarga dalam memenuhi kebutuhannya biasanya melibatkan seluruh anggota, seperti: belanja rumah tangga bulanan.

D.    Keputusan pembelian keluarga
Keputusan pembelian kebutuhan keluarga biasanya melibatkan banyak aspek. Menurut Sumarwan (2002), peranan anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian antara lain:
a.       Sebagai initiator, anggota keluarga yang memiliki ide atau gagasan untuk membeli atau mengkonsumsi suatu produk.
b.      Sebagai  influencer, para anggota keluarga yang memberikan pengaruh pada anggota keluarga lain untuk mengambil keputusan dalam pembelian atau tidak membeli suatu produk.
c.       Sebagai  gate keeper, para anggota keluarga yang mengontrol arus informasi.
d.      Sebagai  decision , anggota keluaga yang menentukan membeli atau tidak suatu produk.
e.       Sebagai  buyer, anggota keluarga yang dengan nyata melakukan pembelian.
f.       Sebagai  preparer, anggota yang mengubah produk mentah menjadi bentuk yang bisa dikonsumsi.
g.      Sebagai  user, anggota keluarga yang menggunakan produk tersebut.
h.      Sebagai  maintancer, anggota keluarga yang merawat atau memperbaiki produk.
i.        sebagai organizer, anggota keluarga yang mengatur apakah produk tersebut bisa dimulai dipakai atau dibuang atau dihentikan.
Jumlah anggota keluarga akan menentukan jumlah dan pola konsumsi suatu barang dan jasa. Anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam keputusan pembelian dan konsumsi suatu produk. Namun kadang juga akan muncul konflik hingga batas-batas tertentu.
Konflik keputusan (desicion conflict) muncul ketika anggota keluarga tidak menyepakati beberapa aspek keputusan pembelian. Perbedaan dalam tujuan akhir sering menciptakan konflik besar karena banyaknya alternatif pilihan yang sangat berbeda (Peter dan Olson, 2000). Contoh: anak yang minta dibelikan sepeda motor oleh orangtuanya karena jarak tempuhnya menuju sekolah sangat jauh. Hal ini dilakukan guna memudahkan dalam menjangkau sekolahnya serta meminimalkan pengeluaran. Dalam hal ini orangtua akan mendiskusikannya kemudian baru memberikan keputusan, apakah akan diberikan sepeda motor atau tidak.

  1. Struktur keluarga dan rumah tangga yang berubah
Pemenuhan kebutuhan dalam keluarga dilakukan harus sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan saat itu. Biasanya seseorang dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya kurang cermat, hingga menyebabkan kondisi keuangn menipis. Hal ini harus mampu diatasi, supaya tidak terjadi pemborosan dalam keluarga. Biasanya status seseorang juga penting dalam mengambil keputusan, apabila sudah berkeluarga maka dalam memenuhi setiap kebutuhan harus selalu dikomunikasikan. Supaya pengeluaran yang dilakukan adalah benar dan tidak terjadi penumpukan hutang disana-sini.

            Sumber:
Peter  dan Olson, 1996. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran.  D. Sihombing (penerjemah). Consumen Behavior. Gelora Aksara Pratama. Jakarta.
            Sumarwan, U.  2004. Perilaku Konsumen. Ghalia Indonesia. Jakarta
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.

Minggu, 24 Oktober 2010

Pengaruh lingkungan terhadap perilaku konsumen


A.    Definisi Nilai, budaya dan etnis
§  Nilai adalah kegiatan manusia yang menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk mengambil keputusan. Menurut Woods, nilai merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
§  Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh yang akan terus melekat dalam diri manusia.
§  Etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras. Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Misalnya: Suku Jawa cenderung dikenal dengan kelembutannya dalam bertutur kata dan menyukai makanan manis sedangkan suku Padang lebih cenderung dikenal karena kemampuannya dalam berdagang serta lebih menyukai makanan pedas.

B.     Budaya dan konsumsi
Budaya merupakan pola hidup menyeluruh yang akan terus melekat dalam diri manusia dan akan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Budaya akan terus menerus tetap walaupun perkembangan zaman semakin hari semakin mendukung munculnya berbagai hal canggih di dalam kehidupan manusia. Sedangkan konsumsi adalah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Berdasarkan pengertian di atas, dapat diketahui bahwa budaya mampu mempengaruhi konsumsi seseorang terhadap barang dan jasa dalam memenuhi segala kebutuhannya. Ini semua tidak terlepas dari kemampuan daya beli masyarakat terhadap suatu produk yang cendurung terpaku pada kebudayaan yang sudah ada. Misalnya: makanan siap saji seperti chicken nugget belfoods yang mampu menjangkau berbagai kalangan, hal ini tentunya dibuat oleh produsen untuk memudahkan setiap konsumen dalam mengefektifkan waktu dalam menyiapkan makanan di kala mendesak seperti, sarapan pagi. Karena begitu eratnya dengan budaya masyarakat yang ingin menghemat waktu, maka konsumsi terhadap produk chicken nugget belfoods semakin meningkat.

C.     Nilai-nilai yang berubah
Nilai-nilai yang terdapat dalam suatu kelompok, tentunya akan mempengaruhi budaya dan kebiasaan seseorang dalam bertindak. Setiap hal yang dilakukan manusia dalam bertindak tidaklah terlepas dari keyakinan masing-masing individu terhadap nilai atau norma yang dianutnya. Hal ini akan terlihat pada kebiasaan individu bersikap, serta dalam menyikapi masalah yang dihadapi. Setiap individu mempunyai perbedaan dalam menjalankan kehidupannya di tengah-tengah masyarakat, hal ini karena perbedaan nilai atau budaya yang dianutnya. Budaya antara seorang yang satu dengan lainnya berbeda walaupun memiliki satu tujuan. Budaya akan luntur seiring berkembangnya zaman, bila tidak diiringi dengan kesadaran individu dalam mensosialisasikan dan menjaga budayanya. Kesadaran individu sangatlah dibutuhkan untuk dapat melestarikan nilai-nilai yang sudah melekat saat ini, supaya tidak bercampur dengan budaya lain yang mampu mengubah kekhasan yang sudah ada. Misalnya: peraturan jam malam yang ditetapkan di dalam keluarga mampu berubah karena adanya pergeseran kebudayaan pada masyarakat, yang seharusnya jam malam berlaku sampai jam 11, kini semakin bertambah hingga fajar menjelang. Hal ini karena adanya budaya luar yang sedikit demi sedikit melunturkan budaya timur kita.

D.    Pengaruh etnis pada perilaku konsumen
Di Indonesia terdapat berbagai macam keanekaragaman etnis, budaya, suku, kebiasaan, nilai serta norma yang berkaitan erat satu dengan lainnya. Hal ini digunakan oleh para produsen dalam merancang produk yang akan dipasarkan pada masyarakat diberbagai penjuru pulau tanpa mengurangi nilai-nilai yang sudah ada didalamnya. Mereka berusaha untuk menyesuaikan cita rasa setiap produk dengan para konsumennya. Seperti: produsen Indofood yang menciptakan berbagai rasa pada produk Indomie, misalnya mie goreng cakalang dari Ambon, mie rasa soto betawi dari Jakarta, dll. Hal ini tentunya disesuaikan dengan lidah para konsumen yang berasal dari berbagai etnis. Hingga dapat membuat konsumen merasa berada di kampung halamannya dengan menyantap Indomie yang disediakan dengan berbagai macam pilihan rasa.

            Sumber:
·         Id.wikipedia.org
·         Setiadi, N J. 2003. Perilaku konsumen konsep dan implikasi untuk strategi dan penelitian pemasaran. Jakarta : Preneda Media.

Keputusan dan persepsi konsumen


A.    Faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen
Dalam perilaku konsumen, proses dalam pengambilan keputusan sangatlah penting, hal ini digunakan untuk membantu setiap konsumen dalam mengerti akan pilihan yang diambil. Sebagai berikut faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen, yaitu:
1.      Karakteristik barang atau jasa (kenyamanan, merk barang atau jasa, harga, serta model terbaru).
2.      Pelayanan pramuniaga (barang) ataupun customer service (jasa).
3.      Rekomendasi.
4.      Pengalaman konsumen sebelumnya.
Selain diatas terdapat pula model pengambilan keputusan konsumen, yaitu:
1.      Strategi pemasaran
Kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh produsen, yakni strategi pemasaran akan membuat banyak pihak tertarik untuk membeli ataupun mengkonsumsi barang atau jasa yang ditawarkan. Hal ini biasanya dilakukan dengan iklan yang dikemas sedemikian menarik hingga membuat konsumen tertarik untuk menggunakan barang atau jasa tersebut.
2.      Perbedaan individu konsumen
Pilihan untuk membeli atau mengkonsumsi suatu produk dengan merk tertentu dipengaruhi oleh hal-hal pada diri konsumen, yaitu: kebutuhan, persepsi, sikap, gaya hidup dan karakteristik kepribadian.
3.      Lingkungan konsumen
Pemilihan barang atau jasa yang akan dikonsumsi oleh konsumen dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, seperti keluarga, komunitas, dll.
            Proses akan pengambilan keputusan ini dimulai dari tahap pengenalan akan produk, mencari informasi, melakukan evaluasi, kegiatan pembelian, serta kepuasan konsumen.
B.     Persepsi konsumen terhadap faktor yang mempengaruhi serta efeknya
Persepsi konsumen (Solomon, 1999) adalah studi yang mempelajari tentang proses yang terjadi ketika individu atau sekelompok untuk memilih, membeli, menggunakan barang atau jasa, serta ide-ide dalam memuaskan kebutuhan ataupun keinginannya. Oleh karena itu, persepsi konsumen sangat dibutuhkan saat konsumen akan melakukan pembelian barang atau jasa, hal ini dilakukan supaya konsumen dapat merasa puas setelah melakukan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen tentunya akan membawa efek terhadap konsumen itu sendiri. Bila dalam melakukan pengambilan keputusan konsumen sudah mempertimbangkan segala resikonya, maka akan membuat konsumen merasa nyaman atau tidak menyesal akan keputusannya. Dalam hal ini persepsi konsumen akan membantu atau mempermudah  dalam proses pengambilan keputusan konsumen, guna mendapatkan hasil yang maksimal.

Sumber:
http:// mercubuana.ac.id

Perilaku Konsumen


Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen ada 2, yaitu:
1.      Faktor eksternal
Factor ini merupakan factor yang berasal dari luar diri konsumen, meliputi:
a.       Keluarga
Terdiri dari keluarga inti ditambah dengan orang-orang yang mempunyai ikatan saudara dengan keluarga tersebut, seperti; kakek, nenek, paman, bibi.
b.      Kelas sosial
Bagian yang relatife homogen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya memiliki minat dan tujuan yang sama, seperti; keturunan.
c.       Kebudayaan
Merupakan faktor penentu keinginan dan perilaku seseoramg yang paling mendasar, seperti; cara hidup, tradisi memilih barang-barang di pasar.
d.      Kelompok referensi
Kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau pengaruh tidak langsung pada sikap dan perilaku seseorang, seperti; kesenian, perkumpulan arisan.
2.      Faktor internal
Factor ini merupakan factor yang berasal dari dalam diri konsumen, meliputi:
a.       Motivasi
Dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu kegiatan, seperti; makan, minum.
b.      Persepsi
Suatu cara pandang seseorang dalam menyikapi suatu masalah, seperti: melihat masalah dari banyak sisi.
Dinamika Psikologis Perilaku Konsumen:
Bagaimana sikap seseorang mengontrol perilakunya dalam mengkonsumsi barang atau jasa, baik dalam hal menjual ataupun membeli guna memenuhi setiap kebutuhan dalam kehidupannya.
Proses Terbentuknya Perilaku Konsumen:
Mengenali masalah yang dihadapi, menemukan informasi guna menyelesaikan masalah tersebut, memilih produk barang ataupun jasa yang akan digunakan, serta mampu mengambil keputusan dalam melakukan transaksi jual-beli.

Sumber:
id.wikipedia.org