Kamis, 17 Maret 2011

Keterlibatan dan Motivasi


a.    Motivasi perilaku manusia
Motivasi secara umum yakni, motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Kebutuhan muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan tersebut mendorong seseorang untuk melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan tersebut, hal inilah yang disebut dengan motivasi. Misalnya: faktor diri konsumen (lapar, haus, dan seks), faktor  luar konsumen (iklan radio, aroma makanan restoran).

b.    Klasifikasi kebutuhan dan strategi pemasaran
Dalam memenuhi kebutuhan setiap konsumennya, para produsen menyusun berbagai cara jitu guna dapat memmancing pelanggannya untuk tetap setia menggunakan produk baik barang atau jasa yang ditawarkan. Oleh karena itu, produsen memperhatikan motivasi serta strategi yang akan ditawarkan. Dalam hal ini, motivasi dan strategi pemasaran memiliki dua teori, yaitu:
·      Segmentasi, pemasar bisa menggunakan teori Maslow sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar. Produk atau jasa yang dipasarkan bisa untuk target pasar berdasarkan tingkat kebutuhan konsumen. Contoh: mobil sedan mewah seperti Mercedez, BMW, Jaguar, Lexus, dll. Handphone tercanggih seperti Blackberry Torch, Samsung Galaxy serta berbagai telepon seluler yang dilengkapi dengan sistem operasi android.
·      Positioning, hierarki kebutuhan dari Maslow bisa dimanfaatkan untuk melakukan positioning produk. Positioning adalah citra produk yang ingin dilihat oleh konsumen. Kunci dari positioning adalah persepsi konsumen terhadap produk. Contoh: kacang dua kelinci yang mempositioningkan produknya dengan slogan “Pelopor Kacang Garing”, jamu tradisional Sidomuncul yang mempositioningkan produknya dengan slogan “Orang Pintar minum Tolak Angin”.

Sumber:
Id.wikipedia.org
moebarak.files.wordpress.com

Pengaruh pengetahuan terhadap perilaku konsumen


Secara umum, pengetahuan dapat didefinisikan sebagai informasi yang disimpan di dalam ingatan. Himpunan bagian dari informasi total yang relevan dengan fungsi konsumen di dalam pasar di sebut pengetahuan konsumen. Pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian. Apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dimana membeli dan kapan membeli akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal tersebut. Pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk, serta pengetahuan lainnya yang terkait dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.
a.    Pengetahuan dan evaluasi produk
Pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
b.    Pengetahuan dan persepsi
Persepsi muncul dari pemikiran seseorang terhadap suatu hal. Dalam hal ini, pengetahuan konsumen seperti yang dijelaskan diatas dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap sebuah produk/merk. Hal ini dikarenakan dari segala informasi yang diterima tentang produk atau merk tersebut, membuat konsumen mengerti dan memahami kegunaan serta kualitas dari produk atau merk tersebut. Maka dari itu akan membuat masing-masing individu memiliki persepsi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Misal, produk susu bayi A dikenal mengandung kalsium dan DHA, sedangkan susu bayi B hanya mengandung kalsium saja. maka konsumen akan cenderung membeli susu bayi merk A, karena menurut mereka susu tersebut memenuhi standar kualitas untuk mencukupi gizi anak mereka. Hal tersebut merupakan salah satu persepsi terhadap produk yang di pengaruhi oleh pengetahuan konsumen.
c.    Isi pengetahuan
Seorang konsumen yang mengkonsumsi produk dari sebuah brand atau merk, tentunya memiliki pengetahuan mengenai produk tersebut. Hal ini akan sangat membantu dalam menentukan pembelian dan pemakaian produk tersebut. Seseorang yang memahami akan pengetahuan produk, maka tidak akan keliru dalam melakukan pembelian dan pemakaian terhadap sebuah produk. Pengetahuan konsumen yang didapatkan melalui berbagai informasi akan memberikan dampak positif terhadap konsumen agar tepat mengambil keputusan untuk mengkonsumsi produk tersebut. Sepertihalnya, saat seorang wanita membeli kosmetik, tentunya akan berpikir untuk menggunakan produk dengan kualitas dan harga terbaik yang disesuaikan dengan kantong si pembeli. Wanita tersebut akan berusaha mencari produk yang benar-benar memenuhi kebutuhannya untuk mempercantik dirinya, bila hal tersebut didapatkan maka akan dilakukan pembelian, serta pemakaian terhadap produk dan konsumen tidak akan mengalami kekecewaan karena telah mengambil keputusan untuk membeli dan memakainya.
Dalam Psikolog kognitif mengemukakan bahwa ada dua jenis pengetahuan dasar, yaitu :
1.      Pengetahuan deklaratif melibatkan fakta subjektif yang sudah diketahui. Dimana pengetahuan deklaratif dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu:
a.         Pengetahuan episodik melibatkan pengetahuan yang dibatasi dengan lintasan waktu. Contohnya adalah kapan terakhir makan di sebuah restoran steak.
b.        Pengetahuan semantik mengandung pengetahuan yang digeneralisasikan yang memberikan arti bagi dunia seseorang. Contohnya adalah kamera digital yang dapat menyimpan saat-saat penting dalam hidup seseorang.
2.      Pengetahuan prosedural mengacu pada pengertian bagaimana fakta ini dapat digunakan. Pengetahuan produk sendiri merupakan konglomerat dari banyak jenis informasi yang berbeda. Pengetahuan produk mencakupi :
1.        Kesadaran akan kategori dan merek produk di dalam kategori produk.
2.        Terminologi produk (misalnya “floppy disk” dalam komputer).
3.        Kepercayaan tentang kategori produk secara umum dan mengenai merek spesifik.
Secara umum, pengetahuan konsumen diperoleh melalui informasi yang ada disekitar individu, selain itu juga didapat melalui pengalaman individu dalam menggunakan sebuah produk. Pengalaman itulah yang digunakan untuk menuntun individu dalam melakukan transaksi pembelian dan pemakaian sebuah produk. Contohnya, pencinta barang-barang berlabel merk terkenal tentu akan dengan mudah mengenali barang mana yang asli dan yang palsu. Hal ini karena konsumen merupakan pengguna barang tersebut, maka tidak akan mudah tertipu dengan tiruan dari merk terkenal tersebut.

Sumber:
id.wikipedia.org
Engel, James F, dll. 1994. Perilaku Konsumen. Jakarta : Binarupa Aksara.

Peranan TI dalam Profesi Sebagai Psikolog


Dewasa ini perkembangan teknologi informasi sudah semakin pesat. Hal ini terlihat dari dimanfaatkannya teknologi informasi dalam berbagai bidang guna membantu memperlancar setiap pekerjaan yang dilakukan. Menurut, Haag den Keen (1996), Teknologi Informasi adalah seperangkat alat yang membantu Anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. Selain itu menurut, Martin (1999), Teknologi Informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras atau lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Hal inilah yang membuat banyak pihak tertarik untuk melibatkan teknologi informasi dalam lingkungan kerjanya, tak terkecuali seorang Psikolog.
Seperti diungkapkan diatas, teknologi informasi mampu membantu siapa saja dalam melakukan berbagai tugas yang berkaitan dengan proses informasi. Begitu juga seorang Psikolog dalam menunaikan tugasnya saat ini pun banyak ditunjang oleh peran teknologi informasi dalam menghemat waktu dan tenaga. Hal ini dirasakan sangat baik karena mampu membuat jam kerja menjadi lebih efektif dan efisien. Sepertihalnya apabila Psikolog dalam melaksanakan tugasnya di sebuah perusahaan melakukan seleksi dan rekruitmen terhadap karyawan baru, tentu membutuhkan teknologi informasi khususnya komputer dalam menyimpan data, mengolah data dan melakukan skoring. Ini semua dilakukan supaya data yang diperoleh dapat lebih akurat dan terjamin kerahasiaannya. Melakukan pemrosesan data klien dengan menggunakan teknologi informasi akan membuat menjadi lebih cepat dalam menentukan hasilnya, hingga dapat lebih mengefisiensikan waktu untuk menerima karyawan baru secara lebih cepat, tepat dan akurat.
Selain contoh diatas, Psikolog juga menggunakan teknologi informasi dalam melakukan terapi pada anak autis. Dimana seorang Psikolog menggunakan program/software khusus guna menunjang terapi bagi anak tersebut. Terapi dengan menggunakan teknologi informasi ini akan membuat anak merasa tertarik dan ingin lebih mengetahui tentang isi dari terapi ini. Karena didalam software ini terdapat hal-hal khusus seperti; games, music, stories, television serta whiteboard. Ini smua mendukung Psikolog dalam menarik perhatian anak agar dapat lebih mencurahkan perhatian dan pikirannya selama terapi berlangsung. Misalnya, Games digunakan untuk sarana bermain anak ketika anak mulai bosan. Music digunakan untuk melatih kemampuan anak dalam mendengar sesuatu secara fokus. Stories digunakan Psikolog untuk memberikan cerita kepada anak agar dapat berinteraksi secara langsung. Television digunakan Psikolog untuk merangsang syaraf motorik anak terhadap suatu tayangan visual serta Whiteboard digunakan Psikolog untuk merangsang syaraf psikomotornya yakni belajar menggambar dan menuangkan kreatifitasnya dalam bentuk gambar, lukisan, ataupun seni lainnya. TI sungguh berperan penting dalam memperlancar proses kerja seorang Psikolog dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.