Senin, 04 April 2011

PEMETAAN BISNIS PROSES PSIKOTERAPI KE DALAM DESIGN AWAL SISTEM INFORMASI


1.    Kasus 1: Gangguan Makan (Anoreksia Nervosa)
a)    Pendekatan
Terapis berusaha untuk membuat klien nyaman dengan memulai pertanyaan-pertanyaan luas dan umum seperti menanyakan nama klien, kondisi klien saat itu apakah dalam kondisi dengan kesehatan yang baik atau tidak ataupun pertanyaan tentang minat atau hobi klien. 
b)  Menggali Informasi Subjek
Setelah klien cukup merasa nyaman berbincang dengan terapis, maka terapis dapat memulai bertanya tentang alasan klien bertemu dengan terapis. Jika klien langsung mengutarakan apa yang selama ini ia perbuat yaitu melakukan usaha untuk mempertahankan berat badan dibawah standar normal dengan proses melaparkan diri, maka terapis dapat memulai pertanyaan-pertanyaan terbuka secara mendalam tentang pikiran dan perilakunya yang melaparkan diri yang tersusun dalam pedoman wawancara serta recorder untuk merekam informasi yang dikatakan subjek
c)   Memilih Terapi yang Tepat
Berdasarkan dari informasi yang diutarakan klien, maka dapat diketahui bahwa klien mengalami Gangguan Makan (Anoreksia Nervosa) dimana penderita merasakan tidak memiliki hasrat untuk makan. Hal ini dilakukan karena ingin mempertahankan berat badan dibawah standar normal, biasanya terjadi pada remaja wanita yang ingin memiliki citra tubuh ideal. Maka terapi yang diharapkan tepat untuk klien yaitu Terapi Elektrokonvulsif (ECT) dan Pendekatan Interpersonal.
d)    Pelaksanaan Terapi
Terapis membutuhkan ruangan yang nyaman dan tidak bising. Kemudian terapis membantu klien menyusun suatu hierarki dari mendengar cerita mengenai ketakutannya bersentuhan dengan makanan sampai dengan ketika klien menjauhi segala jenis makanan. Maka setelah hierarki tersusun, prosedur pendekatan interpersonal dimulai. Klien duduk dengan mata tertutup di kursi yang nyaman dengan terapis menguraikan situasi yang tidak membuatnya begitu mencemaskan tentang makanan dan bentuk tubuh. Jika klien dapat membayangkan dirinya berada dalam situasi tersebut tanpa adanya ketegangan otot yang meningkat, terapis akan melanjutkan hal atau situasi lain yang sudah tersusun dalm hierarki. Jika klien mengalami kecemasan pada saat membayangkan suatu situasi dengan tingkat tertentu, maka klien dilatih untuk mengkonsentrasikan pada situasi rileks, sehingga dengan melakukannya berkali-kali kecemasan klien akan dapat dinetralkan. 
e)    Controling
Pengawasan dilakukan saat prosedur pendekatan interpersonal dan Elektrokonvulsif dilaksanakan. Terapis melakukan pengawasan ketika klien mengalami kecemasan dalam tingkat tertentu pada hierarki kecemasan sehingga terapis dapat menenangkan klien dalam situasi yang nyaman. 
f)    Evaluasi
Evaluasi dilakukan ketika tahap pelaksanaan terapi berakhir. Maka terapis dapat mengutarakan kepada klien melalui record yang telah dicatat sebelumnya oleh terapis mengenai kemajuan apa saja yang klien telah capai dan hal apa saja yang harus diperbaiki klien. Evaluasi dilakukan dalam tahapan yang sistematis, seperti berikut :
> Harapan awal dari terapi yaitu klien tidak merasakan ketakutan yang irasional terhadap makanan dan bentuk tubuh.
> Saat terapi dilakukan, klien mengalami kecemasan ketika mencapai tahap tertentu, terapis mencoba memperhadapkan klien dengan makanan. Maka terapis berusaha membuat klien berkonsentrasi pada situasi rileks, sehingga kecemasan klien netral.
> Setelah terapi berakhir, maka klien diharapkan untuk dapat menyesuaikan dirinya di luar situasi terapi dan klien dapat menaklukan rasa takutnya untuk makan.

2.    Kasus 2: Gangguan Membaca (Disleksia)  
      a) Pendekatan
Terapis berusaha untuk membuat klien nyaman dengan memulai pertanyaan-pertanyaan luas dan umum seperti menanyakan nama klien, kondisi klien saat itu apakah dalam kondisi dengan kesehatan yang baik atau tidak ataupun pertanyaan tentang minat atau hobi klien. 
b)  Menggali Informasi Subjek
Setelah klien cukup merasa nyaman berbincang dengan terapis, maka terapis dapat memulai bertanya tentang alasan klien bertemu dengan terapis. Jika klien belum mampu mengutarakan maksud dan tujuannya, maka terapis dapat bertanya secara lebih mendalam mengenai kehidupan pribadinya yang menyenangkan serta diselingi dengan perkataan menghibur. Hal ini akan membuatnya merasa nyaman dan ketakutan yang dirasakan sedikit demi sedikit akan mencair. maka terapis dapat memulai pertanyaan-pertanyaan terbuka secara mendalam tentang pikiran dan perilakunya yang kurang mampu dalam mengolah kata untuk membaca yang tersusun dalam pedoman wawancara serta recorder untuk merekam informasi yang dikatakan subjek. 
c)   Memilih Terapi yang Tepat
Berdasarkan dari informasi yang diutarakan klien, maka dapat diketahui bahwa klien mengalami Gangguan Membaca (Disleksia) dimana penderita memiliki gangguan kemampuan untuk mengenali kata, membaca yang lambat dan tidak tepat, dan pemahaman yang buruk tanpa adanya kecerdasan yang rendah atau defisit sensorik yang bermakna. Maka terapi yang diharapkan tepat untuk klien yaitu Pendekatan Pendidikan Pengobatan (remedial educational approach).
d)     Pelaksanaan Terapi
Terapis membutuhkan ruangan yang nyaman dan tidak bising. Kemudian terapis membantu klien menyusun suatu hierarki dari mendengar cerita mengenai ketidakmampuannya dalam mengolah kata, mengenali kata, serta kesulitannya dalam membaca. Maka setelah hierarki tersusun, prosedur pendekatan pendidikan pengobatan (remedial educational approach) dimulai. Klien duduk dengan mata terpejam di kursi yang nyaman dengan terapis menguraikan situasi yang tidak membuatnya begitu cemas tentang membaca. Jika klien dapat membayangkan dirinya berada dalam situasi tersebut tanpa adanya ketegangan otot yang meningkat, terapis akan melanjutkan hal atau situasi lain yang sudah tersusun dalam hierarki. Jika klien mengalami kegelisahan pada saat membayangkan suatu situasi dengan tingkat tertentu, maka klien dilatih untuk mengkonsentrasikan pada situasi rileks, sehingga dengan melakukannya berkali-kali kecemasan klien akan dapat dinetralkan.
 e)   Controling
Pengawasan dilakukan saat prosedur Pendekatan Pendidikan Pengobatan (remedial educational approach) dilaksanakan. Terapis melakukan pengawasan ketika klien mengalami kecemasan dan ketakutan dalam tingkat tertentu pada hierarki kecemasan sehingga terapis dapat menenangkan klien dalam situasi yang nyaman. 
f)   Evaluasi
Evaluasi dilakukan ketika tahap pelaksanaan terapi berakhir. Maka terapis dapat mengutarakan kepada klien melalui record yang telah dicatat sebelumnya oleh terapis mengenai kemajuan apa saja yang klien telah capai dan hal apa saja yang harus diperbaiki klien. Evaluasi dilakukan dalam tahapan yang sistematis, seperti berikut :
* Harapan awal dari terapi yaitu klien tidak merasakan ketakutan yang irasional saat dihadapkan pada buku, tulisan ataupun huruf yang harus dibaca.
* Saat terapi dilakukan, klien mengalami kecemasan ketika mencapai tahap tertentu, terapis mencoba memperhadapkan klien dengan tulisan. Maka terapis berusaha membuat klien berkonsentrasi pada situasi rileks, sehingga kecemasan klien netral.
* Setelah terapi berakhir, maka klien diharapkan untuk dapat menyesuaikan dirinya di luar situasi terapi dan klien dapat menaklukan rasa takutnya untuk membaca.

3.    Kasus 3: Gangguan Cemas Perpisahan (Separation Anxiety) 
      a) Pendekatan
Terapis berusaha untuk membuat klien nyaman dengan memulai pertanyaan-pertanyaan luas dan umum seperti menanyakan nama klien, kondisi klien saat itu apakah dalam kondisi dengan kesehatan yang baik atau tidak ataupun pertanyaan tentang minat atau hobi klien.
b)                  b) Menggali Informasi Subjek
Setelah klien cukup merasa nyaman berbincang dengan terapis, maka terapis dapat memulai bertanya tentang alasan klien bertemu dengan terapis. Jika klien belum mampu mengutarakan maksud dan tujuannya, maka terapis dapat bertanya secara lebih mendalam mengenai kehidupan pribadinya yang menyenangkan serta diselingi dengan perkataan menghibur. Hal ini akan membuatnya merasa nyaman dan ketakutan yang dirasakan sedikit demi sedikit akan mencair. Maka terapis dapat memulai pertanyaan-pertanyaan terbuka secara mendalam tentang pikiran dan perilakunya yang memiliki kecemasan bila berpisah dengan ibu secara berlebihan yang tersusun dalam pedoman wawancara serta recorder untuk merekam informasi yang dikatakan subjek. 
c)   Memilih Terapi yang Tepat
Berdasarkan dari informasi yang diutarakan klien, maka dapat diketahui bahwa klien mengalami Gangguan Cemas Perpisahan (Separation Anxiety) dimana penderita memiliki kekuatiran berlebihan bila berpisah dengan tokoh utama, seperti Ibu atau Ayah. Ketakutakan akan ditandai dengan penolakan untuk sekolah, ketegangan akan perpisahan serta keluhan fisik, seperti sakit perut atau pusing. Maka terapi yang diharapkan tepat untuk klien yaitu Terapi Mulitimodal, dimana terapi ini mencakup Psikoterapi individual, pendidikan keluarga, dan terapi keluarga.
d)     Pelaksanaan Terapi
Terapis membutuhkan ruangan yang nyaman dan tidak bising. Kemudian terapis membantu klien menyusun suatu hierarki dari mendengar cerita mengenai kekuatirannya yang berlebih bila berpisah dengan tokoh utama. Maka setelah hierarki tersusun, prosedur Terapi Mulitimodal dimulai. Klien duduk dengan mata terpejam di kursi yang nyaman dengan terapis menguraikan situasi yang tidak membuatnya begitu cemas tentang perpisahan. Jika klien dapat membayangkan dirinya berada dalam situasi tersebut tanpa adanya ketegangan otot yang meningkat, terapis akan melanjutkan hal atau situasi lain yang sudah tersusun dalam hierarki. Jika klien mengalami kegelisahan pada saat membayangkan suatu situasi dengan tingkat tertentu, maka klien dilatih untuk mengkonsentrasikan pada situasi rileks, sehingga dengan melakukannya berkali-kali kecemasan klien akan dapat dinetralkan. 
e)  Controling
Pengawasan dilakukan saat prosedur Terapi Mulitimodal dilaksanakan. Terapis melakukan pengawasan ketika klien mengalami kecemasan dan ketakutan dalam tingkat tertentu pada hierarki kecemasan sehingga terapis dapat menenangkan klien dalam situasi yang nyaman. 
f)  Evaluasi
Evaluasi dilakukan ketika tahap pelaksanaan terapi berakhir. Maka terapis dapat mengutarakan kepada klien melalui record yang telah dicatat sebelumnya oleh terapis mengenai kemajuan apa saja yang klien telah capai dan hal apa saja yang harus diperbaiki klien. Evaluasi dilakukan dalam tahapan yang sistematis, seperti berikut :
# Harapan awal dari terapi yaitu klien tidak merasakan ketakutan yang irasional saat dihadapkan pada keadaan berpisah dengan orang yang dianggapnya dekat.
# Saat terapi dilakukan, klien mengalami kecemasan ketika mencapai tahap tertentu, terapis mencoba memperhadapkan klien dengan perpisahan. Maka terapis berusaha membuat klien berkonsentrasi pada situasi rileks, sehingga kecemasan klien netral.
# Setelah terapi berakhir, maka klien diharapkan untuk dapat menyesuaikan dirinya di luar situasi terapi dan klien dapat menaklukan rasa takutnya untuk berpisah dengan tokoh utama.